2 Maret 2026 10:42 pm
.
5 min read
AXIALNEWS.id | Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu respons cepat dari Teheran.
Pihak Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan yang menyasar kepentingan AS dan Israel di sejumlah negara Timur Tengah. Wilayah yang terdampak meliputi Israel, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Irak, hingga Oman.
Di tengah eskalasi konflik yang melibatkan AS-Israel dengan Iran tersebut, pejabat Teheran memberikan sinyal kuat akan menggunakan “senjata ekonomi strategis”. Mereka mengancam bakal menutup jalur pelayaran energi paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz.
Hal itu turut di konfirmasi pejabat Uni Eropa yang mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz telah menerima transmisi radio frekuensi sangat tinggi (VHF) dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz”.
Tak lama setelah peringatan itu, sedikitnya tiga kapal dilaporkan diserang di sekitar wilayah selat. Dua kapal disebut terkena serangan langsung, sementara satu kapal lainnya nyaris terdampak ledakan proyektil tak dikenal.
Senada dengan pejabat Uni Eropa, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) turut mengkonfirmasi adanya “aktivitas militer signifikan” di wilayah tersebut, termasuk insiden dua mil laut di utara Kumzar, Oman.
Akibatnya, aktivitas pelayaran internasional nyaris terhenti. Data platform pelacakan kapal Kpler mencatat sekitar 150 kapal tanker memilih menjatuhkan jangkar di luar perairan Selat Hormuz.
Baca Juga 2 Tahun Tanah Amblas di Pasar Induk Lau Cih, Rico Waas Janjikan Perbaikan
Namun, beberapa kapal berbendera Iran dan China dilaporkan masih melintas.
Di Mana Letak Selat Hormuz?
Selat Hormuz sendiri berada di kawasan paling strategis di Timur Tengah. Jalur laut ini terletak di antara Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan serta Iran di sisi utara lalu tersambung langsung ke perairan internasional.
Karena posisinya itu, selat ini menjadi pintu utama keluar-masuk kapal dari kawasan Teluk menuju jalur perdagangan dunia.
Secara geografis dan berdasarkan hukum internasional, Selat Hormuz bukan milik satu negara saja, termasuk Iran.
Wilayah perairannya berbatasan langsung dengan Iran di sisi utara dan Oman di sisi selatan. Artinya, sebagian perairan selat berada dalam zona teritorial kedua negara tersebut sesuai dengan batas laut pesisir masing-masing.
Namun, dalam perspektif hukum maritim internasional, Selat Hormuz berstatus sebagai selat internasional untuk navigasi.
Meskipun secara hukum internasional Selat Hormuz dianggap sebagai jalur pelayaran umum yang harus dibuka untuk semua negara berdasarkan prinsip transit passage, Iran tetap mengeluarkan ancaman penutupan maupun tindakan de facto yang membuat pelayaran di kawasan itu nyaris terhenti.
Pejabat Teheran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa Selat Hormuz saat ini “tidak aman untuk pelayaran”.
Secara praktik, kondisi ini membuat jalur tersebut hampir lumpuh karena kapal-kapal memilih menunggu di luar area berisiko.
Baca Juga Iran Tutup Selat Hormuz Pasca Serangan AS dan Israel
Selat Hormuz memiliki posisi yang sangat strategis dalam perdagangan energi global. Jalur laut yang relatif sempit ini menjadi pintu keluar utama minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Data dari U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz sepanjang 2024. Nilai total perdagangan energi yang melintas di jalur tersebut diperkirakan mencapai 500 miliar dolar AS per tahun.
Selain minyak mentah, volume besar gas alam cair (LNG) dunia juga dikirim melalui selat ini, terutama menuju pasar Asia.
Negara Mana yang Paling Terdampak
Karena perannya yang sangat vital, ancaman penutupan Selat Hormuz segera memicu kekhawatiran pasar. Dampak paling cepat terlihat adalah potensi lonjakan harga minyak global.
Adapun penutupan atau gangguan di Selat Hormuz akan paling besar dampaknya dirasakan oleh negara-negara Asia.
Hal ini karena sebagian besar minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melewati jalur tersebut memang ditujukan ke pasar Asia.
Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 84 persen ekspor minyak mentah dan kondensat yang melintasi Selat Hormuz dikirim ke negara-negara Asia.
Untuk LNG, sekitar 83 persen volumenya juga menuju kawasan yang sama. Angka ini menunjukkan bahwa Asia adalah tujuan utama energi dari kawasan Teluk.
Negara yang paling terdampak adalah China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Keempat negara ini menyumbang sekitar 69 persen dari total aliran minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz.
Baca Juga TPFx Indonesia Perkuat Edukasi Trader dengan Analisa XAUUSD Harian
China dan India sebagai dua ekonomi besar dengan populasi tinggi sangat bergantung pada impor energi untuk menjaga pertumbuhan industri dan transportasi.
Jepang dan Korea Selatan, yang minim sumber daya energi domestik, juga sangat tergantung pada pasokan minyak dan LNG dari Timur Tengah untuk pembangkit listrik dan kebutuhan industri.
Jika Selat Hormuz terganggu, pasokan energi ke negara-negara tersebut bisa tersendat. Dampaknya tidak hanya berupa kenaikan harga bahan bakar, tetapi juga peningkatan biaya produksi, lonjakan tarif listrik, serta tekanan inflasi.
Dalam jangka pendek, pemerintah mungkin harus mengeluarkan cadangan strategis minyak untuk menstabilkan pasar. Namun jika gangguan berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi bisa melambat.
Lebih lanjut dampak penutupan Selat Hormuz juga akan terasa di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina.
Meskipun tidak semuanya bergantung langsung pada impor dari Teluk, akan tetapi negara tersebut tetap terpengaruh oleh kenaikan harga minyak global.
Pasar energi dunia saling terhubung, sehingga ketika harga minyak melonjak akibat krisis di Selat Hormuz, hampir semua negara pengimpor energi akan merasakan tekanan yang sama.
Dengan demikian, meskipun Selat Hormuz berada di Timur Tengah, efek ekonominya paling besar akan dirasakan di Asia.
Ketergantungan tinggi kawasan ini terhadap energi dari Teluk menjadikan stabilitas Selat Hormuz sebagai faktor kunci bagi keamanan energi dan kestabilan ekonomi Asia secara keseluruhan.
Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkini
Berita Terbaru
Daftar Terbaru
News
Jasa Impor China
Berita Terbaru
Flash News
RuangJP
Pemilu
Berita Terkini
Prediksi Bola
Technology
Otomotif
Berita Terbaru
Teknologi
Berita terkini
Berita Pemilu
Berita Teknologi
Hiburan
master Slote
Berita Terkini
Pendidikan
Resep
Jasa Backlink
Slot gacor terpercaya
Anime Batch
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.